Showing posts with label Anak Tambang. Show all posts
Showing posts with label Anak Tambang. Show all posts

Tuesday, January 9, 2018

Sistem & Metode Penambangan


Penambangan adalah proses pengambilan material yang dapat di ekstraksi dari dalam bumi. Dalam melakukan penambangan tentunya diperlukan suatu sistem dan metode penambangan yang baik supaya berjalan seefisien mungkin.

Berikut adalah faktor-faktor yang menentukan dalam pemilihan sistem dan metode penambangan:

1. Karakteristik spasial endapan

  • Ukuran (dimensi terutama ketebalan)
  • Bentuk (Tabular, lensis atau masif)
  • Kedudukan (kemiringan/dip)
  • Kedalaman 

2. Kondisi geologi dan hidrologi
  • Mineralogi dan petrografi (sulfida, oksida dsb)
  • Komposisi kimia
  • Struktur endapan (lipatan, pataha, intrusi)
  • Bidang lemah (kekar, rekahan, atah cleat pada batubara)
  • Keseragaman, ubahan, pelapukan
  • Air tanah dan hidrologi (laju aliran, muka air tanah dsb)

3. Sifat-sifat geoteknik
  • Sifat elastis (kekuatan, elastisitas)
  • Prilaku plastis
  • Kondisi tegangan (asli/modifikasi oleh penambangan)
  • Konsolidasi, kompaksi, kompetensi
  • Sifat fisik lainnya (porositas, berat jenis, permeabilitas)

4. Pertimbangan ekonomi
  • Cadangan (tonase, kadar)
  • Tingkat produksi (output per unit waktu)
  • Jangka waktu penambangan (periode operasi)
  • Prokdutifitas
  • Biaya penambangan

5. Faktor teknologi
  • Perolehan penambangan (mining recovery)
  • Fleksibilitas metode terhadap perubahan situasi
  • Dilusi penambangan
  • Pemilihan metode untuk membedakan bijih dan limbah
  • Distribusi pekerja
  • Modal, tenaga kerja, intensitas mekanisasi

6. Masalah lingkungan
  • Subsidence
  • Kontrol udara (pentilasi, panas, kelembaban)
  • Keselamatan kerja ( rekruitmen, pelatihan, kesehatan)





Monday, January 8, 2018

Geomorfologi : Kubah & Pegunungan Lipatan

(Sumber: Everest)

A. Kubah (Dome)

Kubah dapat diartikan sebagai struktur dari suatu daerah yang luas dengan lipatan dan memiliki sudut kemiringan yang kecil.

Ada beberapa sebab terjadinya kubah menurut Thornburry 1989:

1. Kubah Berinti Batuan Kristalin

  • Kubah Batolit
  • Kubah Lakolit
2. Kubah Garam (salt dome)
3. Pengangkatan Batuan Sedimen (Broad Domal Warps)



       (Sumber: Batolit & Lakolit)
  • Batolit yaitu salah satu batuan beku yang terbentuk didalam dapur magma karena penurunan suhu yang melambat, dan biasanya ditemukan pada inti pegunungan.
  • Lakolit yaitu salah satu batuan beku yang terbentuk karena adanya penyusupan magma diantara lapisan batuan yang berada dibawah permukaan bumi.
         
(Sumber: Kubah Garam)


Kubah garam terbentuk pada cekungan sedimen dimana endapan garam telah terkubur di bawah tanah. Kubah garam dapat terbentuk dalam struktur yang sangat besar hingga mencapai 7 km kebawah sedangkan batuan induk pembentuk garam memiliki tebal yang sangat tebal. Gerakan kubah garam dapat di picu oleh  gaya tektonik yang menghasilkan lipatan kerak bumi sehingga kubah garam dapat meletus dalam formasi antiklin.


B. Pegunungan Lipatan

Pegunungan lipatan adalah pegunungan yang terbentuk akibat tenaga endogen yang arah dan tekanannya mendatar atau horisontal. Akibat tekanan yang terus menurus maka terjadilah lipatan pada lapisan kulit bumi mungkin pada mulanya lipatan berbentuk simetris kemudian asimetris dan akibat tekanan yang terus menerus akan mengakibatkan terbentuknya lipatan rebah.


Lapisan sedimen yang terlipat di sebut antiklin jika lapisan atas dan sinklin jika lipatan bawah atau lapisan sedimen yang terlipat ke bawah.

  • Puncak lipatan (Antiklin)
  • Lembah lipatan (Sinklin)


(Sumber: sinklin & antiklin)


(Sumber: Geometri lipatan)

  • Limb: bagian dari lipatan yang terletak Downdip (sayap yang dimulai dari lengkungan maksimum antiklin  sampai hinge sinklin), atau Updip (sayap yang dimulai dari lengkungan maksimum sinklin sampai hinge antiklin). Sayap lipatan dapat berupa bidang datar (planar), melengkung (curve), atau bergelombang (wave).
  • Plunge: sudut yang terbentuk oleh poros dengan horizontal pada bidang vertikal.
  • Axial plane: idang sumbu lipatan yang membagi sudut sama besar antara sayap-sayap lipatannya.


Baca juga: Geomorfologi: Sungai





Geomorfologi: Sungai

(Sumber: Sungai)

Sungai penting dalam proses interpretasi kenampakan geomorfologis, batuan dan struktur geologi. Yang dilihat yaitu dari pola aliran sungai karena pola aliran ini menunjukan apakah suatu sungai tersebut selalu dialiri air atau tidak. Pola aliran ini dipengaruhi oleh lereng, kekerasan batuan, struktur, sejarah geologi dan geomorfologi. Dan air merupakan geomorphic agent yang bisa menyebabkan perubahan pada kenampakan bumi.

(Sumber: Genesa sungai)

1. Genesa Sungai

Gambar diatas menunjukan perkembangan aliran sungai, a) menunjukan tahap awal belum memiliki pola aliran seperti sungai pada umumnya, b) sungai muda dicirikan dengan aktifitas aliran yang mengarah vertikal, air terjun dan aliran yang deras mendominasi pada tahap ini yang menyebabkan erosi yang kemudian menghasilkan lembah, c) sungai dewasa dicirikan dengan mulai adanya dataran banjir floodplain  yang kemudian membentuk meander, d) sungai tua yang dicirikan oleh sungai sudah di dominasi oleh meander dan dataran banjir yang semakin melebar, kemudian dapat membentuk oxbow lake.


2. Pola Aliran Sungai

Berikut adalah pola aliran sungai yang menjadikan pembeda antara satu tempat dengan tempat lainnya tentunya karena adanya perbedaan seperti kemiringan, topografi, litologi, dan struktur.

(Sumber: Pola aliran sungai)

  1. Pola Dendritik : berbentuk seperti cabang pohon/ranting biasanya berada di daerah yang datar dan batuan yang homogen.
  2. Pola  Rectangular : pola ini dikendalikan oleh struktur seperti kekar dan sesar
  3. Pola Pinnate : muara sungai anak membentuk sudut lancip dengan sungai induk, terdapat di bukit dengan lereng yang terjal
  4. Pola Trellis : pola yang aliran sungainya hampir sejajar dengan sungai hampir sejajar (memagar), biasanya berada di daerah patahan
  5. Pola Annular : Aliran yang menyebar secara radial dan berkumpul lagi dalam satu titik yang sama
  6. Pola Paralel : aliran yang terbentuk karena lereng yang terjal
  7. Pola Radial : alirannya menyebar secara radial  dari ketinggian tertentu, seperti dari puncak gunung
  8. Pola Centripetal : aliran yang mengarah ke sebuah cekungan.

3. Tipe genetik sungai

  • Konsekuen : Aliran searah dengan struktur utama atau kemiringan awal
  • Resekuen : Aliran searah dengan kemiringan struktur pada permukaan bidan erosi yang baru
  • Obsekuen : Aliran berlawanan dengan kemiringan struktur
  • Subsekuen : Aliran searah dengan strike struktur
  • Insekuen : Aliran tidak dipengaruhi struktur

Kunjungi juga: Proses Eksogen



Sunday, January 7, 2018

Geomorfologi: Proses Eksogen



(Sumber: Akibat eksogen)

Proses geomorfologi adalah perubahan baik fisik atau kimiawi yang di alami oleh permukaan bumi sehingga menyebabkan perubahan pada rona bumi. perubahan tersebut disebabkan oleh alam yang biasa kita sebuk geomrphic agent berupa air dan angin, keduanya di golongkan sebagai eksogen karena berasal dari luar dan menyebabkan kerusakan.

Berikut adalah proses-proses geomorfik yang terjadi:

1. Pelapukan

  • Pelapukan kimiawi (dekomposisi) terjadi karena perubahan komposisi kimia, seperti pembentukan tanah residual, karbonasi, dan hidrasi.
  • Pelapukan fisik/mekanik (disintegrasi) terjadi perubahan fisik tanpa mengalami perubahan komposisi kimia, seperti pada gurun pasir yang mengalami suhu yang ekstrim yang terus-menerus dan erosi/abrasi.
  • Pelapukan biologi diakibatkan oleh proses biologi sehingga menyebabkan perubahan baik kimia maupun fisik.

2. Erosi

Erosi ini diakibatkan oleh pengikisan padatan yang disebabkan oleh air seperti jatuhnya air hujan dengan intensitas tertentu sehingga menyebabkan erosi. Ada beberapa macam erosi yaitu:
  • Erosi lembar (sheet erosion) < 5cm
  • Erosi alur (rill erosion) 5-50 cm
  • Erosi galur dangkal (shallow gully) 0.5-1.5 m
  • Erosi galur dalam (deep gully) 1.5-5 m
  • Jurang (ravine) >5 m


3. Transportasi (pemindahan masa)

Perpindahan masa ini dapat berupa perpindahan suatu masa batuan akibat dari gaya gravitasi. seperti batuan pada sebuah lereng dimana semakin besar kemiringan lereng tersebut maka peluang terjadinya pergerakan masa batuan akan semakin besar. Ada 3 jenis pemindahan masa yaitu: 
  • Gerakan lambat (slow flowage)
  • Gerakan cepat (rapid flowage) 
  • Gerakan sangat cepat (very rapd flowage)

4. Sedimentasi

Sedimentasi adalah pengendapan material batuan yang terbawa oleh air maupun angin. pengendapan (sedomentasi) ini menyebabkan perubahan muka bumi seperti pada sungai dan laut. sehingga membentuk meander, delta, tombolo,  dan sand dune.



Saturday, January 6, 2018

Geomorfologi: Pengertian dan konsep



(Sumber: Geomorfologi lahan)

Geomorfologi merupakan salah satu cabang ilmu geologi yang mempelajari bentuk/geometri dan seluruh proses-proses pembentukannya dan unsur geologi yang mengendalikannya.

Geomorfologi dapat dipelajari dengan beberapa cara yaitu:
  1. Pengamatan langsung dilapangan
  2. Pengamatan tidak langsung (peta topografi, foto udara, dan citra)
  3. Melakukan eksperimen di lab

Pengamatan tidak langsung diantaranya menggunakan peta topografi, peta topografi yaitu peta muka bumi yang di gambarkan oleh garis-garis kontur. kontur adalah garis yang menghubungkan titik-titik yang memiliki ketinggian yang sama, garis kontur tidak mungkin bercabang dan garis kontur tidak mungkin berpotongan.




Proses geomorfologi: perubahan-perubahan baik secara fisik maupun kimia yang dialami oleh permukaan bumi. bisa berupa eksogen maupun endogen. Eksogen yaitu datang dari luar bumi seperti banjir dan yang dari luar ini sebagai perusak sedangkan eksogen yaitu yang datang dari dalam bumi dan bersifat membentuk seperti pembentukan pegunungan.


Pendeskripsian geomorfologi dilakukan dengan 2 cara yaitu:
  1. Empiris: deskripsi ini berdasarkan bentuk, ukuran, posisi, warna berdasarkan data yang telah ada
  2. Eksplanatoris: berdasarkan karakteristik objek pengamatan yang berkaitan dengan bagaimana proses terbentuknya.

10 Konsep Thombury (1989)
  1. Waktu geologi
  2. Struktur geologi
  3. Relief yang terbentuk
  4. Proses geomorfik
  5. Agen erosi
  6. Evolusi geomorfologi
  7. Obyek alam di permukaan bumi umumnya berumur lebih muda dari Pleistosen
  8. Geologi dan iklim
  9. Apresiasi iklim global diperlukan dalam memahami proses-proses geomorfik yang beragam
  10. Geomorfologi, umumnya mempelajari land forms / landscapes yang terjadi saat ini dan sejarah pembentukannya.

Baca juga: Batu granit

Friday, December 29, 2017

Batu Granit

BATU GRANIT

(Sumber: Batu granit)

1. Pengertian Batu Granit

Granit adalah batuan terobosan yang terjadi melalui proses pembekuan magma di permukaan bumi dengan temperatur yang stabil. Batu granit memiliki sifat asam, berbutir kasar hinggga sedang, serta bewarna terang keabuan, kecoklatan, dan kemerahan. Selain itu, batu granit merupakan  jenis batuan intrusif, felsik, igneus yang umum dan banyak ditemukan. Granit kebanyakan besar, keras dan kuat, dan oleh karena itu banyak digunakan sebagai batuan untuk konstruksi.


I   2. Identifikasi dan genesa batu granit

Batu granit memiliki warna yang terang, bertekstur kasar dengan susunan mineral acak. Granit memiliki kilau yang bagus dan tahan cuaca serta hujan asam. Granit adalah jenis batuan intrusif, felsik, igneus yang umum dan banyak ditemukan. Granit kebanyakan besar, keras dan kuat, dan banyak digunakan sebagai batuan untuk konstruksi bangunan. Kepadatan rata-rata granit adalah 2,75 gr/cm³ dengan jangkauan antara 1,74 dan 2,80.
Granit ditemukan dalam pluton-pluton besar pada benua, ketika kerak bumi telah mengalami pengikisan yang besar.Granit mengalami proses pendinginan yang sangat lambat pada kedalaman jauh dari permukaan tanah, untuk membentuk butiran-butiran mineral besar. Pluton yang ukurannya kurang dari 100 km2 disebut dengan galang dan yang lebih besar disebut batolit.Selain itu, granit juga terbentuk dari letusan gunung berapi yang mengeluarkan lava pijar. Ketika lava keluar dari dalam perut bumi dan memenuhi daratan bumi, tetapi lava dengan komposisi sama dengan granit hanya ke luar pada permukaan bumi. Ini berarti, granit harus terbentuk melalui pelelehan batuan benua yang dapat terjadi karena dua alasan, yaitu penambahan panas dan penambahan volatil (air atau karbon dioksida atau keduanya).
Permukaan benua relatif panas karena mengandung sebagian besar uranium dan potasium yang memanaskan daerah sekelilingnya melalui peluruhan radiokatif. Proses lempeng tektonik terutama subduksi dapat menyebabkan magma basaltik naik di bawah benua. Selain panas, karbon dioksida ini melepaskan magma dan air yang membantu semua jenis batuan meleleh pada suhu lebih rendah. Diperkirakan bahwa sejumlah besar magma basaltik dapat menempel ke bagian bawah sebuah benua dalam proses yang disebut underplating. Dengan pelepasan panas dan cairan yang lambat, sejumlah besar kerak benua bisa berubah menjadi granit pada waktu bersamaan.
Ada tiga hal yang membedakan granit dengan batuan lainnya, yaitu :
  1. Granit terbetuk dari butiran-butiran mineral besar yang bersatu erat.
  2. Granit selalu terdiri atas mineral kuarsa dan feldspar, dengan atau tanpa jenis mineral lain di dalamnya.
  3. Hampir semua jenis granit berbentuk beku dan plutonik. Pengaturan acak butiran pada batu granit merupakan bukti otentik asal plutoniknya.  Batuan dengan komposisi yang sama seperti granit bisa terbentuk melalui proses metamorfisme batuan sedimen yang lama. Akan tetapi, jenis batuan ini memiliki corak yang kuat dan biasanya disebut dengan granit gneiss.


3. Struktur mineral
Granit yang murni hanya salah satu jenis granitoid. Sebuah granitoid mengandung 20-60 % kuarsa dan kandungan feldspar. Granit adalah batuan yang kuat karena memiliki butiran mineral yang terbentuk selama periode proses pendinginan yang sangat lambat. Penambahan kuarsa dan feldspar menunjukkan kekuatan granit lebih kuat dibandingkan baja. Karena kekuatannya tersebut, granit banyak dipakai untuk bangunan dan benda hiasan seperti batu nisan.Kuarsa dan Feldspar umumnya memberikan granit bercahaya terang, dari warna merah muda sampai warna putih. Warna dasar tersebut disisipkan oleh mineral-mineral pengaya lainnya yang warnanya lebih tua. Mineral pelengkap yang paling umum adalah mika biotit hitam dan hornblenda amfibol hitam.Granit merupakan batuan beku dalam bertekstur holokristalin, feneritik, berbutir kasar, mengandung mineral-mineral : kuarsa 10-4- %,  felsparkalium 30-60 %, plagioklas natrium 0-35%, mineral mafis (biotit, hornblenda) 35-10 %.Batuan leleran dari granit adalah Riolit. Secara fisik riolit berbutirhalus, bertekstur holokristalin hingga hipokristalin, afanitik. Mempunyai komposisi mineral sama dengan granit. Riolit terbentuk sebagai batuan gang dan batuan leleran dalam bentuk retas, sill, dan aliran. Berwarna abu-abu kemerahan hingga kehijauan, berbutir kasar dengan komposisi mineral feldspar, kuarsa, hornblende dan biotit.


Baca juga:






Saturday, December 23, 2017

Batu Gamping (Kapur)


1. Pengertian Batu Gamping

Batu gamping (kapur) adalah batuan sedimen dengan komposisi utama tersusun oleh kalsium karbonat (CaCO3) dalam bentuk mineral kalsit. Di Indonesia, batu gamping sering disebut juga dengan istilah batu kapur, sedangkan istilah luarnya biasa disebut limestone. Batu gamping paling sering terbentuk di perairan laut dangkal.

2. Genesa Batu Gamping

Batu gamping terbentuk dilaut dangkal, tenang dan kondisi perairan yang hangat. dimana lingkungan seperti inilah yang ideal dimana organisme pembentuk batu gamping mampu membentuk cangkang kalsium karbonat dan skeleton. 
ketika organisme tersebut mati maka akan menyisakan cangkang yang kemudian terkumpul menumpuk mengalami sedimentasi dalam waktu yang lama akan mengeras litifikasi dan terbentuklah Batu gamping.



3. Jenis-jenis Batu Gamping

Secara umum batu gamping dibagi menjadi 5 yaitu:

a. Batu gamping klastik
b. Batu gamping kristalin
c. Batu gamping bioklastik
d. Batu gamping terumbu
e. Batu gamping afanitik

Baca juga : Batubara

4. Kegunaan Batu Gamping

Batu gamping (CaCO3) memiliki banyak manfaat terutama dalam bidang industri berikut adalah beberapa manfaatnya:

a. Bahan untuk menurunkan kadar sulfur
b. Industri pupuk
c. Campuran semen portland
d. Penerunan kadar asam air
e. Bahan pembuat soda api
f.  Pemutih kertas
g. Industri kimia
h. Bahan pembuat cat
i.  Kapur pertanian dll

Wednesday, November 22, 2017

STRUKTUR BATUAN SEDIMEN

CIMG8770

Batuan sedimen atau Sedimentary Rock adalah batuan yang terbentuk dari proses litifikasi dari hancuran batuan lain atau dari hasil reaksi kimia / organism. Litifikasi sendiri merupakan proses perubahan material yang lepas / unconsolidated material menjadi material – material yang padat dan kompak / consolidated material.

Batuan sedimen memiliki struktur yaitu:

  1. Struktur Sedimen PrimerStruktur ini merupakan struktur sedimen yang terbentuk karena proses sedimentasi dapat merefleksikan mekanisasi pengendapannya. Contohnya seperti perlapisan, gelembur gelombang, perlapisan silang siur, konvolut, perlapisan bersusun, dan lain-lain. (Suhartono, 1996 : 47) Struktur Primer adalah struktur yang terbentuk ketika proses pengendapan dan ketika batuan beku mengalir atau mendingin dan tidak ada singkapan yang terlihat. Struktur primer penting sebagai penentu kedudukan atau orientasi asal suatu batuan yang tersingkap, terutama pada batuan sedimen. Struktur yang terbentuk sewaktu proses pengendapan sedang berlangsung termasuk lapisan mendatar (flat bedding), lapisan silang, laminasi, dan laminasi silang yang mikro (micro-crosslamination), yaitu adanya kesan riak. (Mohamed, 2007).

  2. Struktur Sedimen SekunderStruktur yang terbentuk sesudah proses sedimentasi, sebelum atau pada waktu diagenesa. Juga merefleksikan keadaan lingkungan pengendapan misalnya keadaan dasar, lereng dan lingkungan organisnya. Antara lain : beban, rekah kerut, jejak binatang.



Selengkapnya di STRUKTUR BATUAN SEDIMEN

Kajian Hidrologi Kec. Bayung Lencir Kab. Musi Banyuasin Sumsel

 

Untuk mengetahui karakteristik kondisi Hidrologi di daerah penyelidikan maka  dilakukan kajian hidrologi. Hasil dari kajian ini diharapkan dapat memberikan solusi terhadap beberapa permasalahan yang dihadapi berkaitan dengan masalah hidrologi dengan adanya rencana kegiatan penambangan.

silahkan download:

Hidrologi Kec. Bayung Lencir, Kab. Musi Banyu Asin Sumsel

Laporan Kuliah Lapangan Pemetaan Geologi Daerah Cibadak, Sukabumi Jawa Barat

Pemetaan di daerah gunung walat Kec. Cibadak Kab. Sukabumi, dilakukan untuk mengetahui singkapan yang ada, komoditi batuan. Kondisi geologi yang ada dan di gambarkan ke dalam sebuah peta sehingga di pahami oleh pembaca peta, tentunya di dalam peta geologi harus memiliki Legenda guna mempermudah pembaca peta.

Hakikat dari pemetaan geologi adalah menampilkan segala macam kondisi geologi yang ada dilapangan (yang bersifat tiga dimensional) kedalam peta (yang bersifat dua dimensional). Gejala geologi yang nampak pada lapangan terutama dalah batuan, urutan batuan, struktur batuan serta bangun bentang alam yang dibangun oleh batuan tersebut.(Wartono Raharjo,1999)

Silahkan Download:

BAB I

BAB II

BAB III

BAB IV

Thanks....

(IGEOS UPI 2017) Multivariate Analysis of Limestone Petrography Data onKalipucang Formation Using R

Achmad Darul1,#., Dasapta Erwin Irawan2., Jejen Ramdani1., Fauzan Septiana1., Siti Saniyyah Sholihat3
Igeos map2Research location: geological map of Karangnunggal (Supriatna, et al 1992)



Abstrak. Limestone is one of the most strategic construction materials. Its physical properties are controlled by chemical properties. Different types of limestone can be distinguished by examining thin section. However, it is still complicated to classify limestones based on qualitative observation. Geologists also need a method to classify a large number of samples based on training data. This paper applies multivariate statistical techniques (principal component analysis and cluster analysis) to assist sample classification. We used 57 samples of thin section rock of Kalipucang Formation from three location: Pancatengah-Tasikmalaya (PCT); Cijulang-Ciamis (CJL) and Sindangsari-Ciamis (SDS). An open source R statistical package was used in the analysis. The result from our training data shows a consistent classification with the initial visual classification. Each location shows distinct petrographical compositions: Group 1 shows the dominant control of depositional environment with strong values of foraminifera, algae, mud carbonate, coral fragments. Group 2 shows a mixing with igneous rock with plagioclase, opaque, glass, pyroxene. Group 3 shows the mixing with transported-sediment with traces of quartz compositions, iron oxides, rock fragments. However, we need to make more trials using more data set to test this method.

 Key word: Limestones, Multivariate analysis, Petrography.

Friday, October 21, 2016

ICMNS 2016: Comparative petrographic analysis of volcanic rocks in 5 different areas using R

​[ABS-366] Comparative petrographic analysis of volcanic rocks in 5 different areas using R

Jejen Ramdani (a), Dasapta Erwin Irawan (b), Achmad Darul (a)


(a) Institut Teknologi dan Sains Bandung; (b) Institut Teknologi Bandung


Abstract


Petrographic is a method to determine detailed description of the rock, related to composition and classification based on minerals composition in the volcanic rock. Five locations have been selected based on public domain datasets from Center for Geological Survey of Indonesia: Mt. Lamongan, Banyuresmi – Bogor area, Mt. Kromong , Jember area, and Mt. Wangi Purworejo.


We took notes of the mineral composition of the 75 samples in the dataset and analyze it using basic and multivariate statistics — principal component analysis (PCA), cluster analysis (CA), and multiple regressions (MR). The size of the dataframe was 75 x 20. R package were used to implement an open science work flow. Final code and datasets will be made available online.


Our preliminary results show the separate clustering of Tertiary and Quarternary volcanic samples suggesting significant differences between the two types of rock. Our trials using PCA, CA, and MR produce a consistent results. We identify a seemingly “pure” volcanic rock domain in Mt. Lamongan, Mt. Kromong, and Mt. Wangi, while the Banyuresmi and Jember areas show a slightly different cluster that due to sedimentary components influence, as shown by the occurrence of organic matters. As our analysis is still developing, currently we don’t find any major drawbacks in applying this method to classify rock samples based on their petrographic properties.


Keywords: Petrographic, statistics, volcanics


Topic: Earth and Space Sciences

Wednesday, July 20, 2016

BATUBARA

batubara4


Batu bara adalah salah satu bahan bakar fosil. Pengertian umumnya adalah batuan sedimen yang dapat terbakar, terbentuk dari endapan organik, utamanya adalah sisa-sisa tumbuhan dan terbentuk melalui proses pembatubaraan. Unsur-unsur utamanya terdiri dari karbon, hidrogen dan oksigen.

Batu bara juga adalah batuan organik yang memiliki sifat-sifat fisika dan kimia yang kompleks yang dapat ditemui dalam berbagai bentuk.

Analisis unsur memberikan rumus formula empiris seperti C137H97O9NS untuk bituminus dan C240H90O4NS untuk antrasit.


Penambangan batu bara adalah penambangan batu bara dari bumi. Batu bara digunakan sebagai bahan bakar. Batu bara juga dapat digunakan untuk membuat coke untuk pembuatan baja.[1]

Tambang batu bara tertua terletak di Tower Colliery di Inggris.


Kelas dan jenis batu bara


Berdasarkan tingkat proses pembentukannya yang dikontrol oleh tekanan, panas dan waktu, batu bara umumnya dibagi dalam lima kelas: antrasit, bituminus, sub-bituminus, lignit dan gambut.



  • Antrasit adalah kelas batu bara tertinggi, dengan warna hitam berkilauan (luster) metalik, mengandung antara 86% - 98% unsur karbon (C) dengan kadar air kurang dari 8%.

  • Bituminus mengandung 68 - 86% unsur karbon (C) dan berkadar air 8-10% dari beratnya. Kelas batu bara yang paling banyak ditambang di Australia.

  • Sub-bituminus mengandung sedikit karbon dan banyak air, dan oleh karenanya menjadi sumber panas yang kurang efisien dibandingkan dengan bituminus.

  • Lignit atau batu bara coklat adalah batu bara yang sangat lunak yang mengandung air 35-75% dari beratnya.

  • Gambut, berpori dan memiliki kadar air di atas 75% serta nilai kalori yang paling rendah.

Pembentukan batu bara


Proses perubahan sisa-sisa tanaman menjadi gambut hingga batu bara disebut dengan istilah pembatu baraan (coalification). Secara ringkas ada 2 tahap proses yang terjadi, yakni:



  • Tahap Diagenetik atau Biokimia, dimulai pada saat material tanaman terdeposisi hingga lignit terbentuk. Agen utama yang berperan dalam proses perubahan ini adalah kadar air, tingkat oksidasi dan gangguan biologis yang dapat menyebabkan proses pembusukan (dekomposisi) dan kompaksi material organik serta membentuk gambut.

  • Tahap Malihan atau Geokimia, meliputi proses perubahan dari lignit menjadi bituminus dan akhirnya antrasit.



Sumber: https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Batu_bara&veaction=edit&vesection=3